Selasa, 10 Desember 2013

Titiek Puspa

        Titiek Puspa

              
   
 Nama "Titiek Puspa" diambil dari Titiek yang merupakan nama panggilannya sehari-hari dan Puspa dari 'Puspo' nama bapaknya. Nama ini pula yang diambil untuk nama orkes pengiringnya "PUSPA SARI" yang dipimpinnya sendiri dan mengiringinya menyanyi di awal kariernya.
Awal karier bernyanyinya dimulai di Semarang, kota di mana Titiek Puspa yang kini disebut sebagai diva legendaris oleh Majalah Wanita KARTINI, mengikuti kontes menyanyi "Bintang Radio". Tidak hanya sampai di bidang menyanyi saja, 'eyang Titik' juga menunjukan totalitasnya dalam menggarap beberapa operet yang sempat sangat disukai pemirsa TVRI, seperti operet bawang Merah Bawang Putih,Ketupat Lebaran, Kartini Manusiawi Kartini dan Ronce-ronce.
Rekaman piringan hitamnya yang pertama dengan label GEMBIRA, berisi lagu Di Sudut Bibirmu, Esok Malam Kau Kujelang, dan duet bersama Tuty Daulay dalam lagu Indada Siririton, iringan musik Empat Sekawan Sariman. Pada pertengahan 1960, Titiek Puspa sempat menjadi penyanyi tetap pada Orkes Studio Jakarta. Saat itu Titiek Puspa banyak mendapat bimbingan dari Iskandar (pencipta lagu dan pemimpin orkes) dan Zainal Ardi (suaminya sendiri seorang announcer Radio Republik Indonesia Jakarta). Sebagai penyanyi yang mulai menanjak popularitasnya, Titiek belum menciptakan banyak lagu dalam albumnya, lagu-lagunya banyak diciptakan misalnya oleh Iskandar, Mus Mualim, ada juga Wedasmara. Barulah pada album Si Hitam dan Pita (1963) yang berisi 12 lagu tiap albumnya semuanya adalah ciptaannya sendiri dan menjadi populer saat itu, selain itu juga album Doa Ibu berisi 12 lagu, 11 lagu adalah ciptaannya dengan 1 lagu ciptaan Mus Mualim. Dari album Si Hitam, lagu yang semakin memopulerkan namanya adalah Si Hitam, Tinggalkan, Aku dan Asmara. Bisa juga dikatakan bahwa bersama album Si Hitam, album Doa Ibu adalah album yang legendaris karena berisi lagu-lagu Minah Gadis Dusun, Pantang Mundur, yang semakin menancapkan Titiek Puspa sebagai penyanyi dan pencipta lagu Indonesia yang baik.   

Karya-karya Titiek Puspa:                                                                           
1.PUSPA DEWI 
2.Tinggi Gunung Seribu Janji. 
3.Daun Yang Gugur. 
4.Ditinggal Kekasih 
5.Selamat Jalan, Selamat Berpisah
6.Buka Pintu
   7.SI HITAM
8.Sampul Surat
9.DOA IBU
  10.SOK TEU


Mi Jika Ni Arumono

Mi jika ni arumono
Tsune ni ki wo tsuketenai to
Amari ni chikasugite
Miushinatteshimaisou

Anata ga saikin taiken shita
Shiawase wa ittai nan desu ka?
Megumaresugeteite
Omoidasenai kamo
Ima koko ni iru koto
Iki wo shiteiru koto
Tada sore dake no koto ga
Kiseki da to kizuku

Mi jika ni arumono
Tsune ni ki wo tsuketenai to
Amari ni chikasugite
Miushinatteshimaisou

You know the closer you get to something
The tougher it is to see it
And I'll never take it for granted

Oitsuzuketekita yume
Akiramezumi susume yo nante
Kirei koto wo ieru hodo
Nanimo dekichainai kedo
Hitonigiri no yuuki wo mune ni
Ashita wo ikinuku tame ni
And I'll never take it for granted
Let's go


Payphone

I'm at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it's all wrong, where are the plans we made for two?

Yeah, I, I know it's hard to remember
The people we used to be
It's even harder to picture
That you're not here next to me
You say it's too late to make it
But is it too late to try?
And in our time that you wasted
All of our bridges burned down

I've wasted my nights
You turned out the lights
Now I'm paralyzed
Still stuck in that time when we called it love
But even the sun sets in paradise

I'm at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it's all wrong, where are the plans we made for two?

If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
All those fairytales are full of sh*t
One more stupid love song I'll be sick

You turned your back on tomorrow
Cause you forgot yesterday
I gave you my love to borrow
But just gave it away
You can't expect me to be fine
I don't expect you to care
I know I've said it before
But all of our bridges burned down

I've wasted my nights
You turned out the lights
Now I'm paralyzed
Still stuck in that time when we called it love
But even the sun sets in paradise

I'm at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it's all wrong, where are the plans we made for two?

If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
All those fairytales are full of sh*t
One more stupid love song I'll be sick

Now I'm at a payphone...

[Wiz Khalifa]
Man work that sh*t
I'll be out spending all this money while you sitting round
Wondering why it wasn't you who came up from nothing
Made it from the bottom
Now when you see me I'm stunning
And all of my cars start with the push up a button
Telling me the chances I blew up or whatever you call it
Switched the number to my phone
So you never could call it
Don't need my name on my show
You can tell it I'm ballin'
Swish, what a shame could have got picked
Had a really good game but you missed your last shot
So you talk about who you see at the top
Or what you could've saw
But sad to say it's over for
Phantom pulled up valet open doors
Wiz like go away, got what you was looking for
Now ask me who they want
So you can go and take that little piece of sh*t with you

I'm at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it's all wrong, where are the plans we made for two?

If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
All those fairytales are full of sh*t
One more stupid love song I'll be sick

Now I'm at a payphone...

Niccolò Paganini

Niccolò Paganini

                                                   

Niccolò Paganini dilahirkan di Genoa pada 27 Oktober 1782, oleh pasangan Antonio dan Teresa (sebelumnya Bocciardo) Paganini. Menurut penulis biografinya Peter Lichtenthl, pertama kali Paganini belajar bermain mandolin ialah diajari oleh ayahnya pada saat ia berusia lima tahun, lalu pindah ke biola pada usia tujuh dan mulai mengarang pada saat ia berusia delapan. Ia bermain di depan publik pertama kalinya pada waktu berumur 12 tahun. Di masa mudanya ini, ia belajar dari berbagai guru, termasuk Giovanni Servetto dan Alessandro Rolla, namun ia tidak dapat menguasai dirinya sendiri seiring dengan kesuksesannya; pada umur 16 tahun ia suka bermain judi dan minum minuman keras. Pada waktu itulah kariernya diselamatkan oleh seorang wanita yang tidak diketahui identitasnya, yang membawa Paganini ke rumahnya dimana Paganini pulih dari kebiasaan buruknya dan kembali belajar biola selama tiga tahun. Ia juga bermain gitar pada saat itu.
Ia kembali muncul ke khalayak publik pada saat ia berusia 23 tahun, dengan menjadi direktur musik saudara perempuan Napoleon, Elisa Baciocchi, Putri dari Lucca, pada saat ia tidak tur. Tidak lama kemudian ia menjadi legenda karena kemahirannya bermain biola yang tidak tertandingi, dengan debutnya ke Milan pada 1813, Vienna 1828, dan London serta Paris pada 1831. Paganini adalah salah satu orang pertama, bahkan mungkin orang pertama, yang melakukan tur sebagai artis solo, tanpa pemain musik pengiring. Ia menjadi salah seorang 'superstar' pertama-tama dalam hal konser publik. Ia menjadi kaya dan terkenal sebagai pemain musik tur, dan tidak terkalahkan dalam hal memikat pendengarnya.Sebuah mitos yang merebak luas tentang Paganini ialah bahwa ia menjual jiwanya kepada setan sebagai ganti teknik bermain biolanya, sebuah rumor yang mana ia sendiri merasa tersanjung, dan bisa jadi dimulai oleh dirinya sendiri. Pada saat ia bermain musik, bola matanya akan berputar sampai ke belakang, sehingga hanya tampak putihnya. Cara berdirinya yang lenggang, dengan rambut tipis panjang dan kusut, serta postur tubuhnya yang kurus cekung, semakin menambah rumor tentang dirinya. Ia bermain begitu bersemangatnya hingga para wanita terjatuh pingsan dan para pria akan menangis tersedu-sedu.Biola yang dipakai Paganini dikenal sebagai Cannone Guarnerius, nama yang diberikan paganini untuk mencerminkan suara 'cannon' yang dikeluarkannya. Senarnya hampir berada pada satu permukaan datar, kebalikan dari semua biola yang lain dimana senarnya membentuk satu lengkungan untuk menghindari menggesek senar yang lain. Dengan demikian Paganini dapat memainkan tiga bahkan empat senar secara mudah pada biolanya.Di Paris pada 1833, ia memesan sebuah musik konser biola dari Hector Berlioz, yang akhirnya menghasilkan Harold di Italy (Harold in Italy) untuknya, namun Paganini tidak pernah memainkannya.
Kesehatannya mulai menurun setelah ia didiagnosis penyakit kanker tenggorokan. Penyakitnya membuatnya kehilangan kemampuan berbicara, namun ia tetap bermain biola hingga akhir hayatnya. Malam terakhir sebelum kematiannya dikatakan bahwa ia masih berusaha bermain biola secara tidak sadar. Ia meninggal di Nice pada 27 Mei 1840.Musik orkestra Paganini dinilai sopan, tidak bertele-tele, dan suportif. Kritik mengatakan bahwa musik konsernya menggunakan terlalu banyak kata-kata dan terlalu menggantungkan kepada formula tertentu: salah satu bagian terakhirnya sering kali digantikan dengan yang lain. Selama kariernya, bagian biola dari konsernya disimpannya sendiri. Paganini akan melatih orkestranya tanpa memainkan bagian biolanya secara keseluruhan. Menjelang ajalnya, hanya dua yang telah diterbitkan. Keturunan dari Paganini dengan cerdiknya menerbitkan satu demi satu, setelah jeda waktu beberapa tahun. Saat ini ada enam konser musik Paganini yang telah diterbitkan (walaupun dua yang terakhir kehilangan bagian orkestranya). Komposisinya yang sering menggunakan alat musik gitar dan senar, terutama biola, telah menjadi bagian dari repertori baku.Paganini juga mengembangkan jenis musik variasi konser untuk biola solo, dengan cara mengambil tema yang sederhana dan naif, dan variasi lirik yang berselang-seling dengan memainkannya dengan semangat yang menyala-nyala yang membuat pendengarnya menganga mulutnya.

Karya-karya Niccolò Paganini:

·  Arban
·  Boris Blacher
·  Johannes Brahms
·  Franz Liszt
·  Andrew Lloyd Webber
·  Robert Schumann
·  Karol Szymanowski

·  Sergei Rachmaninoff 

Love Me

Love Me Lyrics
oh oh its jb
My friends say I’m a fool to think
that you’re the one for me
I guess I’m just a sucker for love
‘Cuz honestly the truth is that
you know I’m never leavin’
‘Cuz you’re my angel sent from above

Baby you can do no wrong
My money is yours
Give you little more because I love ya,
love ya
With me, girl, is where you belong
Just stay right here
I promise my dear I’ll put nothin above ya
above ya

Love me, Love me
Say that you love me
Fool me, Fool me
Oh how you do me
Kiss me, Kiss me
Say that you miss me
Tell me what I wanna hear
Tell me you love me

Love me, Love me
Say that you love me
Fool me, Fool me
Oh how you do me
Kiss me, Kiss me
Say that you miss me
Tell me what I wanna hear
tell me u love me

People try to tell me
but I still refuse to listen
‘Cuz they don’t get to spend time with you
A minute with you is worth more than
a thousand days without your love,
oh your love
oh

Baby you can do no wrong
My money is yours
Give you little more because I love ya
love ya
With me, girl, is where you belong
Just stay right here
I promise my dear I’ll put nothin above ya
above ya

Love me, Love me
Say that you love me
Fool me, Fool me
Oh how you do me
kiss me , kiss me
say that u miss me
tell me what i wanna hear

http://hotliriklagu.com
tell me you love me.
Love me, Love me
Say that you love me
Fool me, Fool me
Oh how you do me
kiss me , kiss me
say that u miss me
tell me what i wanna hear
tell me you love me.

My heart is blind but I don’t care
‘Cuz when I’m with you everything has disappeared
And every time I hold you near
I never wanna let you go,
oh

Love me, Love me
Say that you love me
Fool me, Fool me
Oh how you do me
kiss me , kiss me
say that u miss me
tell me what i wanna hear
tell me you love me.

Love me, Love me
Say that you love me
Fool me, Fool me
Oh how you do me
kiss me , kiss me
say that u miss me
tell me what i wanna hear
tell me you love me.



Impian Angsa Kecil

Di sekolah harapan bangsa ada seorang siswi yang bernamana Hilda, Jurusan Ilmu pengetahuan Alam. sekarang dia sudah kelas Tiga SMA. Pada hari senin, tepatnya pada jam istirahat di sekolah SMA Harapan Bangsa, Hilda, maya, mawar, Dimas dan teman-teman yang lainnya belajar. Pada jam istirahat tiba, hilda dan teman-temanya keluar dari kelas untuk sekedar membeli jajanan setelah penat belajar. Mereka duduk di bangku di bawah pohon besar yang sejuk tempat mereka biasa membeli jajanan dan mengobrol.
“Engga terasa yah sekarang kita sudah kelas tiga dan sebentar lagi kita lulus.” ucap Dimas.
“Iya, nanti kita akan berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing”. Jawab Hilda.“o ya, kalian mau melanjutkan kemana? Tanya maya.
Mereka pun menjawab secara bergiliran
“kalau saya mau kembali pulang ke kampung halaman saya, dan mencoba membantu orangtua saya disana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari” jawab dimas
“ciyee Dimas, tumben pinter, ha ha.. (mawar yang sengaja menggoda dimas) saya juga sependapat dengan kamu, saya ingin kerja dulu, jika uang nya sudah mencukupi saya ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi” jawab mawar
“kalian hebat, bagus sekali cita-cita kalian. Saya sangat mendukung kalian. Jika di Tanya saya mau melanjutkan kemana, saya ingin melanjutkan kuliah ke universitas yang saya inginkan. Dan kamu may, mau kemana?” saut Hilda
“saya ingin melanjutkan ke perguruan tinggi karena itu keinginan saya dan harapan orangtua saya.” Jawab maya.
Merekapun asyik berbincang-bincang tentang kelanjutan mereka setelah lulus nanti. Bel istirahat pun berbunyi, sudah saatnya untuk masuk kelas dan memulai belajar kembali.
Bel pun berbunyi kembali yang menandakan waktunya mereka harus pulang.
“Hilda, ayo siapkan teman-temanmu.” Ucap guru Hilda di kelas.
“baik pak” jawab Hilda.Hilda pun menyiapkan teman-temanya dan memberi salam kapada guru ada di kelas itu. Waktupun terus berlalu, Kelulusan pun telah tiba, hilda sangat sedih berpisah dengan sahabat-sahabatnya. Mulai hari itu hilda sudah bukan anak SMA yang berseragam putih abu-abu. Hilda pun seperti angsa kecil yang mulai mengepakan sayapnya, berusaha menjadi lebih baik dan mencari jati dirinya.
Sesampainya hilda di rumah dan beristirahat, bunda Hilda pun mendekatinya untuk sekedar berbincang-bincang tentang kelanjutan Hilda untuk ke perguruan tinggi.
“nak, kamu mau melanjutkan ke universitas mana setelah lulus nanti? Tanya bunda hilda

“Saya mau ke universitas negeri yang dekat dari tempat tinggal” jawab Hilda
“ayah, bunda, dan om kamu yang di Bandung menginginkan kamu kuliah universitas Pelita (universitas yang berada di Bandung).”
“saya engga mau kuliah jauh bunda, saya ingin kuliah di sekitar kota ini saja. Agar tidak jauh dari bunda dan ayah,”
Maklumlah, Hilda yang saat itu baru berusia delapan belas tahun, tidak ingin jauh dari orangtua nya. Walau pun Hilda pernah di undang untuk mengikuti tes beasiswa masuk perguruan tinggi di Jakarta. Kemudian Hilda pun melakukannya hanya untuk membahagiakan hati orang tuanya dan mencoba memberanikan diri untuk berpisah dengan orang tuanya. Namun kenyataan nya lain, hilda hanya mendapatkan 75% beasiswa dari tes tersebut. Perasaannya pun bercampur antara senang dan sedih. Senang karena dia tidak jadi kuliah di luar kota dan sedih karena tidak mendapatkan beasiswa penuh, sedangkan orang tuanya menginginkanya.”
Setelah kelulusan, Hilda rajin mencari informasi tentang perguruan tinggi yang dia inginkan. Mulai dari browsing, menanyakan ke teman-teman yang ingin melanjutkan kuliah, menanyakan ke saudara-saudaranya yang sedang kuliah maupun yang sudah lulus.
Pilihanan pun sudah ada di tangan Hilda, dia ingin melanjutkan di universitas negeri Nusantara karena bertempat tidak terlalu jauh dari rumahnya. Hilda pun mengatakan kepada orangtuanya tentang keinginan nya dan meyakinkan orangtuanya bahwa pilihannya itu terbaik dan bisa merubah keadaan lebih baik. Orangtuanya pun menyutujuinya. Perasaan nya bagaikan kupu-kupu terbang melayang-layang di taman bunga yang warnanya bermacam-macam sehingga menambah keindahan bunga di taman tersebut.
Hilda pun memulai daftar Seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri dengan sepupunya dan di temani teman sepupunya yang sudah kuliah di universitas yang hilda inginkan tersebut secara on line. Hilda berusaha sekuat tenaga supaya berhasil dalam seleksi tersebut, dia mulai mengurangi waktu main bersama teman-temannya untuk menggantikannya dengan waktu belajar. walaupun banyak yang mengatakan kapada Hilda bahwa yang mengikuti seleksi tersebut kemungkinan kecil untuk mendapatkannya. Di karenakan banyak yang berminat untuk masuk perguruan tinggi negeri.
Setelah satu bulan berlalu sudah saatnya Hilda untuk mengikuti mengikuti tes seleksi nasional masuk perguruan tingi tersebut. Keluarganya sangat mendukungnya. Kakak perempuan nya pun selalu ada di sampingnya, mulai dari melengkapi berkas-berkas untuk seleksi dan menghantarkan hilda ke tempat tujuan untuk tes. Tes berjalan dua hari, pagi buta hilda harus sudah berangkat supaya tidak terlambat, bagaimanapun tes tersebut sangat menentukan masa depannya.
Waktu berjalan dengan sendirinya dua bulan berlalu, tiba saat nya pengumuman test seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri. Orang tua nya pun mengetahui bahwa hari itu pengumumannya.
“hilda, hari ini pengumumannya yah, ayo bunda antarkan kamu untuk melihat pengumuman” ucap bunda hilda
“hmm.. iyah bunda, tapi nanti kalau aku tidak di terima, bunda jangan marah yah, he hee” (sambil senyum) jawab hilda
“iyah.. kalau pun kamu tidak di terima bunda tidak akan marah ko”
Sebenarnya hilda sudah punya rencana jika dia tidak di terima dalam tes tersebut, dia akan menunda kuliahnya dan akan mengikuti test lagi tahun depan. Walaupun orang tua nya tidak menyutujuinya, hilda yakin jikalau gagal itu biasa dan terus berusaha itu baru luar biasa.
Ketika hilda dan bundanya sudah sampai untuk melihat pengumuman tersebut, hati hilda seperti genderang yang terus di pukul mengeluarkan bunyi yang sangat keras, perasaannya bercampur aduk, gelisah, penasaran, takut, dan sebagainya. Begitu hilda dan bundanya melihat pengumuman tersebut ternyata hilda di terima sebagai mahasiswi di perguruan tinggi yang dia impikan. Hilda pun sangat bersyukur kepada Allah yang telah mengabulkan doanya. Berterima kasih kepada keluarga yang selalu mendukungnya setiap saat untuk menggapai impiannya.










Nb: kita harus yakin bahwa sukses itu mimpi besar yang harus di wujudkan dan harapan itu seperti sebuah masa depan, apa yang Kita kerjakan sekarang adalah hasil dari apa yang ingin kita raih untuk masa depan kita.

Make It Mine

Wake up everyone
How can you sleep at a time like this
Unless the dreamer is the real you
Listen to your voice
The one that tells you to taste past the tip of your tongue
Leap and the net will appear

I don't wanna wake before
The dream is over
I'm gonna make it mine
Yes I... I will own it
I'm gonna make it mine
Yes I'll make it all mine

I keep my life on a heavy rotation
Requesting that it's lifting you up
Up up and away
And over to a table at the gratitude cafe

And I am finally there
And all the angels they'll be singing
Ah la la la ah la la ah la la la la la love this
Well I don't wanna break before
The tour is over
I'm gonna make it mine
That's right, I... I will own it
I'm gonna make it mine
Yes I'll make it all mine...

Yes, I will make it all mine...
And timing's everything
And this time there's plenty
I am balancing
Careful and steady
And reveling in energy that everyone's emitting

Well I don't wanna wait no more
No, I wanna celebrate the whole world
I'm gonna make it mine
Because I'm following your joy
I'm gonna make it mine
Because I... I am open
I'm gonna make it mine
That's why... I wanna show it
I'm gonna make it, it mine
Gotta make gotta make gotta make gotta make it make it mine
Oh mine...
Yes I will make it all mine...