Beethoven

Karir Ludwig Van Beethoven
sebagai seorang pianis (pemain piano) mulai dikembangkan melalui konser yang
sering diselenggarakan oleh para bangsawan secara pribadi di rumah mereka.
Konser pertamanya di depan umum diselenggarakan pada tanggal 29 Maret 1795 di
Wina, pada usia 25 tahun dan ia telah menunjukkan kelasnya sebagai seorang
komponis dan pemain piano yang handal dan berprestasi. Ia membawakan Konserto
Piano dalam Bes Mayor dan pada bulan Desember tahun yang sama, ia juga
mengadakan konser lagi dengan memainkan Konserto Piano dalam C Mayor Op. 1 yang
dipersembahkan untuk gurunya, Franz Josef Haydn.
Dalam setiap konsernya,
Beethoven selalu bermain dengan semangat dan penuh emosi yang mendalam. Hal ini
pun tercermin dalam karya-karyanya, sonata piano di awal kariernya penuh
kebebasan dan daya kreativitas yang tinggi. Contohnya, Sonata Piano dalam F
Minor No. 1 Op. 2, yang memperlihatkan bahwa Beethoven ingin memperlihatkan
diri sebagai seorang musisi yang berbeda dari Haydn dan Mozart. Musik pianonya
begitu tegas dan agresif berbeda dengan tujuan dan suasana musik generasinya,
dimana saat itu musik diciptakan dengan tujuan untuk menghibur.Pada tahun 1796,
Beethoven mengadakan konser di beberapa kota ,
yaitu di Nuremberg , Prague ,
Dresden dan Berlin . Ia mempersembahkan Sonata Piano
dalam C minor Op. 13 (Pathetique) kepada Pangeran Karl Lichnowsky dalam
konser-konser tersebut. C minor adalah nada dasar yang sering digunakan
Beethoven untuk membuat musik yang serius dan tegas.Pada usia 31 tahun (1801),
ia merasakan pendengarannya mulai berkurang. Ia juga menerima seorang murid
wanita berusia 17 tahun bernama Countess Giulietta Guicciardi (1784 – 1856).
Beethoven jatuh cinta dengan muridnya ini dan membuat Sonata Piano Op. 27 No. 2
yang dipersembahkan untuk Giulietta. Sebetulnya sang putri bangsawan bersedia
menerima lamaran Beethoven, tapi kedua orang tua sang putri tidak
mengijinkannya untuk menikah dengan seorang biasa.
Beethoven mengatakan bahwa
pendengarannya mulai berkurang karena kebiasaannya menuangkan air dingin di
kepala saat membuat komposisi-komposisi musiknya. Hal ini ia lakukan sering
sekali untuk menyegarkan dirinya, tapi setelah itu ia tidak mengeringkan
rambutnya. Dan hal ini berpengaruh pada syaraf pendengarannya. Akibat masalah
pendengaran ini, ia mengalami depresi sepanjang tahun 1802. Sebagai seorang
komponis, ia tidak merasa terganggu, karena ia masih dapat mendengarkan musik
dalam otaknya, bahkan musik yang sangat kompleks dan ia dapat menotasikannya
melalui partitur yang ia tulis. Ia tidak menciptkan musik melalui piano,
melainkan di atas meja tulis untuk mengaplikasikan ide-ide musik dari otaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar